MEMBENAHI TIGA KEKUATAN JIWA
Rasulullah saw. Bersabda, “ orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah. “ ( HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah ra. ) Beliau juga bersabda ,” Orang yang lemah adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya dan banyak berangan-angan kepada Allah. “ ( HA. Ahmad dan Tirmidzi dari Syadad bin Aus )
Kedua hadits di atas menjelaskan bahwa pada diri manusia terdapat tiga kekuatan jiwa : Kekuatan amarah, kekuatan syahwat, dan kekuatan akal. Kebaikan jiwa seorang muslim sangat ditentukan oleh tiga kekuatan ini. Oleh karenanya, Rasul saw. Menyerukan kepada setiap muslim agar memiliki kemampuan untuk membenahi dan mengendalikannya. Jangan sampai ia menjadi orang yang lemah dan tidak berdaya dihadapan ketiganya. Berkenaan dengan kekuatan amarah, beliau menegaskan,
“ Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
Berkanaan dengan kekuatan syahwat, Beliau mengingatkan,
“ Orang yang lemah adalah orang yang menyerahkan diri kepada hawa nafsunya. “
Dan berkenaan dengan kekuatan akal, beliau menandaskan,
“Orang yang lemah adalah orang yang banyak berangan-angan kepada Allah.”
Nilai-nilai ruhiyah
1. Mengendalikan Kekuatan Amarah.
a.Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasul saw.
Rasul saw. Bersabda,
“ Barang siapa menahan amarah sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di depan semua mahluk-Nya dan menawarkan kepadanya bidadari surge yang ia sukai.” ( HR. Ahmad )
Beliau juga bersabda,
“Tidak ada seorang hamba yang menahan amarahnya melainkan Allah akan memenuhi hatinya dengan keamanan dan keimanan. “ ( HR. Abu Dawud )
Beliau juga bersabda,
“Jangan kamu marah, niscaya kamu akan masuk surga.” ( HR. Thabrani )
b.Mengingat Kekuasaan Allah Ta’ala
Dalam kitab taurat, Allah Ta’ala berfirman,
“ Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika kamu marah, Aku akan mengingatmu ketika Aku marah, Aku tidak akan memurkaimu bersama orang-orang yang Aku murka.”
c.Mengetahui bahwa menahan amarah dan memaafkan, bukan berarti lemah.
Sabda Rasulullah saw.,
“orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan lawannya. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah. “( Muttafaqun ‘Alaih )
d.Menaingat akibat buruk pelampiasan amarah
e.Berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla
Allah Ta’ala berfirman,
“Jadilah engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” ( Al-A’raf : 199 )
Beliau lalu bersabda,
“Aku mengetahui suatu kalimat yang seandainya orang ini mengucapkannya niscaya amarahnya akan hilang. Jika ia mengucapkan, “ A’uudzu bi;;ahi minasy-syaithaanir-rajiim.” ( HR. Bukhari dan Muslim )
f.Mengubah posisi Badan
Nabi saw. Bersabda,
“ Apabila salah seorang diantara kamu marah, sedangkan ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika dengan duduk amarahnya belum reda, maka hendaklah berbaring. “ ( HR. Ahmad )
Rasulullah saw. Bersabda,
“ sesungguhnya orang yang berbaring lebih baik daripada orang yang duduk. Orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.” ( HR. Muslim )
g.Diam
Rasul saw. Bersabda,
“ Apabila salah seorang diantara kamu marah, maka hendaklah ia diam ( beliau mengucapkannya tiga kali ).” ( HR. Abu Dawud )
h.Berwudhu
Dalam sebuah Khutbah Rasulullah bersabda,
“ Ketahuilah bahwa amarah adalah bara yang menyala-nyala dalam hati anak adam.” (HR. Ahmad )
Rasulullah saw. Bersabda,
“sesungguhnya amarah itu dari setan, sedang setan diciptakan dari api, dan yang dapat memadamkan api hanyalah air. Oleh karena itu, apabila salah seorang diantara kamu marah hendaklah ia berwudhu.” ( HR.Ahmad )
Rabu, 07 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar